BAGI sebagian kalangan, tokoh kita yang satu ini mungkin dianggap kontroversial. Meskipun begitu, perjuangannya dalam menjaga pemahaman Islam yang benar serta mengawal kerukunan umat antarberagama di Jakarta atau Batavia kala itu sangatlah nyata.
Dialah Habib Utsman Bin Abdullah Bin Aqil Bin Yahya. Mufti Betawi yang menjadi rujukan ilmu para ulama dan masyarakat awam pada akhir abad 19 dan awal abad 20.
Sejumlah alasan dikemukakan Habib Idrus Ali Al Habsyi menyoal penulisan buku Jejak Sang Mufti Betawi, Habib Ustman Bin Yahya ini. Di antaranya, mengangkat kembali perjuangan sang tokoh dalam pengembaraan ilmu hingga 20 tahun di berbagai negara hingga dipercaya menggantikan Syekh Abdul Ghoni Albimawi sebagai tokoh sentral di Jakarta.
Karya-karya cucu Syekh Abdurrahman Al Mishri ini juga sangat banyak, yakni sekitar 130 judul buku yang sekarang menjadi khazanah yang luas bagi umat Islam khususnya di Betawi. Selain itu, lanjut Idrus Ali, ia juga berupaya untuk menjawab kegelisahan dan tuduhan yang kerap muncul terkait kedekatan beliau dengan Belanda.
“Ketokohan beliau di Jakarta dan sekitarnya ini penting kita luruskan,” ujar Idrus Ali dalam acara Bedah Buku Jejak Sang Mufti Betawi di Lembaga Studi Islam Al Awfiya Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Habib Utsman bin Yahya yang lahir pada tahun 1822 dan wafat 1914 mengingatkan kita, agar mampu menempuh jalan untuk lebih mencintai ilmu dan ulama, mencintai literasi, dan lebih kokoh menjaga nilai-nilai yang diwariskan. Nah, lewat lewat bedah buku ini, sedikitnya ada empat hal yang dapat dipetik untuk mengenal sang Mufti.
Masing-masingnya yaitu,
- Pemberani menolak kemungkaran. Beliau lantang menolak ajaran perdukunan yang menyesatkan masyarakat saat itu.
- Guru yang merakyat. Beliau menulis kitab-kitab tipis yang mudah dipahami untuk persoalan sehari-hari. Misalnya, Adabul Insan, Sifat Dua Puluh, juga kitab Al-Qawanin, panduan praktis bagi para qadhi atau penghulu.
- Penjaga Aqidah. Di tengah masuknya pemikiran baru dari luar seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, beliau kokoh menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah.
- Pecinta pergerakan. Diam-diam, beliau juga mendukung lahirnya Serikat Dagang Islam hingga bertransformasi menjadi Serikat Islam, hingga Jamiatul Kher.
Dalam sambutannya, Dr Ahmad Irfan, Kepala LSI Al Awfiya mengatakan, pelaksanaan bedah buku merupakan upaya pihaknya dalam menjaga api literasi di kalangan umat Islam.
“Sebagai kalangan akademisi, kami siap berkolaborasi. Tradisi dan literasi harus terus dihidupkan, khususnya terkait sejarah yang memang jarang jadi perhatian,” tuturnya.
Bahkan, majelis ini juga telah banyak menggelar diskusi ilmiah dan pelatihan, serta telah empat kali menggelar bedah buku. Bagi Al Awfiya, majelis bukan hanya tempat zikir, tapi juga tempat berpikir dan upaya peningkatan literasi masyarakat.











