Cerita NHM, Bank Haji Pertama bagi Jemaah Indonesia di Tanah Suci

PERAN perbankan dalam aktivitas ibadah haji cukup signifikan mengingat kebutuhan pembiayaan yang besar. Tapi, bagaimana asal mula keberadaan layanan perbankan bagi jemaah Indonesia yang tengah menunaikan rukun Islam tersebut?

Untold story singkat ini akan mencoba menguak awal tradisi perbankan di sisi Barat semenanjung Arab alias Hijaz yang punya dua destinasi utama. Yakni, Makkah dan Madinah.

Penelusuran jejak bank konvensional pertama di tanah suci, dimulai dari brosur iklan pergi haji ke Makkah di Museum Mandiri jalan Lapangan Stasiun kawasan Kotatua Jakarta. Bangunan cagar budaya yang kini aset Bank Mandiri dulunya merupakan kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) Batavia.

NHM berpusat di negeri Belanda sejak 1824. Dua tahun kemudian, perusahaan tersebut membuka cabang pertama di Batavia 1826.

Kembali ke cerita layanan perbankan haji. Ide awal pendirian cabang NHM di kota pelabuhan Jeddah, gerbang masuk kota Makkah, tentu dari kejelian bisnis pengurus NHM Batavia kala itu.

Pemerintah Hindia Belanda dan Kantor Pusat NHM di Amsterdam kemudian mempersiapkannya. Pangeran Faisal bin Abdulaziz Al-Saud, putra mahkota dan gubernur baru Makkah, berkunjung secara resmi ke Kantor Pusat NHM di Amsterdam pada Oktober 1926.

Pertemuan dirinya dengan Presiden NHM, Cornelis Johannes Karel van Aalst menyepakati rancangan agar NHM memiliki jaringan kantor cabang di berbagai negara. Momen bersejarah ini menjadi awal kolaborasi ekonomi bilateral Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Belanda.

Berselang sebulan kemudian, atau pada November 1926, berdiri Kantor Cabang NHM di kota Jeddah sebagai bank konvensional modern pertama di jazirah Arab dan Kerajaan Arab Saudi. Jumlah jemaah haji dari Hindia Belanda yang besar menjadi pertimbangan utama para direksi NHM menyetujui pembukaan jaringan kantor di Tanah Sucu.

Pada 1926, berdasarkan data Kementerian Agama, jemaah haji Nusantara tahun tercatat mencapai berjumlah 43.082 orang. Jumlah tersebut merupakan 40 persen dari total populasi jemaah haji dunia.

Nah, sejak saat itulah jemaah haji asal Nusantara dapat membawa cek perjalanan, membeli dan menukar mata uang, serta menggunakan layanan perbankan lain di Cabang NHM Jeddah.

Mulai ekspansi

Pada Agustus 1927, Raja Abdulaziz bin Saud secara pribadi menempatkan deposito emas selama dua belas bulan senilai £250.000. Kejadian ini ibarat mendapat durian runtuh bagi NHM.

Sebab, mereka tidak perlu membayar bunga bahkan dengan diperbolehkan memanfaatkannya di luar kerajaan. Selain itu, Raja juga menempatkan £50.000 lagi dalam deposito tanpa biaya.

Relasi NHM dengan Raja Arab Saudi pun terjalin dengan baik. Bangunan Kantor NHM Jeddah terekam dalam warisan dokumenter perjalanan haji pertama dan terlengkap tahun 1928, film bisu berjudul Het Groote Mekka-Feest (Festival Makkah yang Agung) karya George EA Krugers yang berdurasi 72 menit.

Tahun 1931, NHM membuka cabang pertama di kota suci Makkah dipimpin staf lokal. Setahun berselang, L van Leeuwen, mantan Direksi NHM Batavia diangkat menjadi penasihat keuangan Raja.

Sebagai satu-satunya bank modern di Kerajaan Arab Saudi, peran Cabang NHM pun melebar, tidak hanya fokus melayani keperluan jemaah haji namun juga memfungsikan diri seperi bank sentral, NHM menerbitkan koin perak baru, menyimpan cadangan emas Kerajaan dan menerima pendapatan minyak atas nama pemerintah.

Bahkan, kantor Cabang NHM Jeddah juga turut membantu pemerintah dengan peluncuran mata uang lokal. NHM yang semula dari bank layanan haji asal Nusantara terus melakukan ekspansi dan tranformasi bisnis di Kerajaan Arab Saudi. (Bersambung)

Referensi : De Indische Mercuur No. 44, 03-11-1926; De Telegraaf 20-10-1926; Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa Ke Masa, Humas BPKH, 2023; Sumatra-Bode, 20-11-1926; Voor handel en Maatschappij: Geschiedenis van de Nederlandsche Handel-Maatschappij, 1824-1964, Ton de Graaf, 2012

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x90