JAKARTA, RAMBUKOTA – Kampung Tiga Suku yang berlokasi di Meruya Utara dan Srengseng Jakarta Barat rupanya memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebagai perkampungan Betawi, wilayah ini sejatinya punya potensi yang mendukung untuk diangkat nilai-nilai baik sisi sejarah maupun kebudayaannya.
Keluarga Besar Betawi Tiga Suku yang merupakan komunitas yang berada di lingkungan tersebut pun punya tugas dan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian budaya Betawi. Diharapkan, ke depan bisa digelar festival kebudayaan serta literasi yang mengangkat nilai-nilai positif dari kampung tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Agustiawan, Lurah Meruya Utara Jakarta Barat dalam sambutannya di acara Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim Piatu Keluarga Besar Betawi Tiga Suku pada Sabtu (7/3/2026).
“Sebagaimana Meruya, Kampung Tiga Suku juga punya cerita dan sejarah yang menarik. Nama Meruya tempo dulu juga telah diabadikan dengan berdirinya Meroedja Sport Park yang baru-baru ini diresmikan, begitu juga Kampung Tiga Suku yang perlu diangkat sejarahnya,” kata Agustiawan.
Menurutnya, komunitas Keluarga Besar Betawi Tiga Suku yang anggotanya mencakup wilayah Kelurahan Meruya Utara dan Srengseng tersebut bisa terus berkembang kegiatannya. Termasuk kontribusi sosial lewat pelaksanaan santuanan dan buka puasa.
Agustiawan juga mengapresiasi kegiatan sosial yang digelar di Aula Karang Taruna Meruya Utara tersebut. “Kekompakan warga di sini juga menjadi kontribusi bagi kami dalam menjalankan fungsi pemerintahan,” imbuh dia.

Cerita Tigasoekoe
Literasi terkait sejarah Kampung Tiga Suku sejauh ini masih terbilang mini. Bahkan, cerita yang beredar pun masih bersifat folklore atau lisan dari mulut ke mulut.
“Bahwa kata suku di Kampung Tiga Suku pun rupanya bukan berarti suku bangsa tertentu. Tapi, merupakan alat tukar yang digunakan pada zaman Belanda yaitu soekoe,” ujar Agustiawan.
Menurut dia, cerita tersebut pun diharapkan dapat dieksplorasi lebih jauh oleh komunitas anak-anak muda yang ada di Kampung Tiga Suku. “Misalnya dengan menggelar acara festival kebudayaan, sebagaimana kampung Betawi di Condet atau Situ Babakan,” katanya.
Sebagai informasi, dalam peta Hindia Belanda, Garnizoenskaart Batavia en Omsreken yang dirilis tahun 1934, Tigasoekoe telah tecatat sebagai wilayah perkampungan yang menjadi bagian dari Land Kebajoran. Dalam peta tersebut juga terdapat wilayah Meroeja Hilir dan Meroeja Oedik.
Perkampungan ini berbatasan dengan sungai atau kali uangan pinggir di sebelah barat, serta dengan Koeboerbatoe dan Pesanggarahan di bagian utara. Sedangkan di wikayah selatan berbatasan dengan Kebonteboe 1 dan Srengseng.
Bukber dan Santunan
Mursalih, Ketua Perkumpulan Arisan Tiga Suku mengatakan, pelaksanaan buka puasa bersama ini merupakan upaya pihaknya untuk meningkatkan kontribusi sosial di wilayah setempat. “Kami pun mengajak komunitas serta lembaga yang ada di Kampung Tiga Suku untuk turut terlibat dalam acara ini,” ujarnya.
Oleh sebab itu, sejumlah komunitas turut berpartisiasi di acara ini, semisal Muda Jakarta, Forum Komunikasi Masyarakat Betawi Tiga Suku (Forkombets), Singgah Mata, Sanggar Dian Srikandi, Sahabat Peci Merah (SPM), dan Karang Taruna Meruya Utara. Selain itu, juga terus serta memberikan kontribusi Dapur Zee, Nasrudin Law Firm, Kreasi Manunggal, dan Rumah Belajar Tiga Siku.
Pria yang akrab disapa Bang Abun Bobby ini bilang, untuk menambah keberkahan, pihaknya juga mengundang sejumlah anak yatim piatu untuk diberikan santunan. “Selain menjadi wadah perkumpulan orang tua dan anak muda di Kampung Tiga Suku, kami berharap bisa memberikan kontribusi positif untuk wilayah kami sendiri, ya dengan kegiatan santunan ini,” tuturnya.






