Jejak Perjuangan dr Soepomo yang Abadi hingga Kini (2-Akhir)

Foto : Dok. Pemkot Surabaya

JAKARTA, RAMBUKOTA – Perjuangan dr Soetomo dalam pergerakan masa pra kemerdekaan tetap abadi meskipun tokoh tersebut telah wafat seabad silam. Jejak fisik perjuangannya pun tetap terjaga, gedung N.V. Bank Nasional Indonesia terus lestari seakan membawa semangat akan nilai sejarah bagi generasi mendatang.

Pada 30 Mei 1938, tersiar kabar duka di seluruh pelosok nusantara, dr Soetomo wafat di Surabaya. Namun, jejak perjuangan beliau dalam bidang politik, dan perekonomian bangsa Indonesia tetap dirasakan hingga sekarang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya, termasuk kompleks makam dr Soetomo yang berada di belakang Gedung Nasional Indonesia,” ujar Firman Haris, anggota Forum Komunikasi Kearsipan Perbankan (FKKP), Kamis (21/5/2026).

Belakangan, pada 29 November 2017, bangunan tersebut diresmikan menjadi Museum dr Soetomo. Dari tempat inilah publik dapat membaca kembali karya, gagasan, dan warisan perjuangan seorang tokoh bangsa yang tidak hanya berpikir tentang kemerdekaan politik, tetapi juga kemandirian ekonomi.

Menurut Firman, signifikansi NV Bank Nasional Indonesia tidak dapat dilepaskan dari lanskap perbankan kolonial. Di masa Hindia Belanda, sistem keuangan banyak didominasi oleh lembaga seperti De Javasche Bank, Nederlandsche Handel Maatschappij, Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, serta bank-bank asing lainnya.

BACA JUGA : 

Kiprah dr Soetomo, dari Boedi-Oetomo ke Bank Nasional Indonesia (1)

Di tengah dominasi itu, kehadiran NV Bank Nasional Indonesia menjadi pernyataan penting. Rakyat pribumi harus memiliki ruang, akses, dan keberanian untuk membangun kekuatan ekonominya sendiri.

Bank ini bukan sekadar lembaga keuangan. Pendiriannya dapat menjadi simbol perlawanan ekonomi yang dijalankan melalui cara modern, terstruktur, dan legal.

“Dapat menjadi bagian dari sejarah panjang tumbuhnya kesadaran bahwa kemerdekaan bangsa tidak hanya diperjuangkan di ruang politik, tetapi juga di pasar, di ruang usaha, di kantor bank, dan di denyut ekonomi rakyat,” imbuh Firman.

Kebesaran dr Soetomo terlihat lebih utuh. Bukan hanya tokoh pergerakan, tapi juga pembangun kesadaran bahwa bangsa yang besar harus memiliki pendidikan, persatuan, keberanian politik, dan fondasi ekonomi yang kuat.

Ketokohan dan perjuangan dr Soetomo sejatinua masih banyak terekam di media massa kala itu. Di antaranya di Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie, Indische Courant, Java-Bode, serta koran lain era 1929 hingga 1957.

Beliau memiliki motto hidup, Facta Non Verba. Kalimat tersebut berarti, perlihatkan hasil kerjamu, tidak usah banyak bicara.

Motto tersebut menjadi cermin kepemimpinan yang relevan hingga hari ini. “Kepemimpinan bukan sekadar pidato, nasionalisme bukan sekadar kalimat indah,” jelasnya.

Ia menambabkan, pesan dr Soetomo yang terukir pada batu prasasti di Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, hingga kini tetap terasa menyala. Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini, Firman juga mengajak agar nasionalisme sejati dapat dipahami sebagai semangat keberanian membangun masa depan bangsa.

Di sana, dr Soetomo berpesan, “Di Indonesia tempat kita, di sana tempat berjoeang kita, di sana harus ditoenjoekan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita, terutama sekali ketjintaan kita kepada noesa dan bangsa. Marilah kita bekerdja di sana, di tanah toempa darah kita.”

BACA JUGA : 

Kiprah dr Soetomo, dari Boedi-Oetomo ke Bank Nasional Indonesia (1)

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x90