EMPAT April 1956 malam di kawasan Menteng Jakarta menjadi momentum bersejarah dalam pergerakan ekonomi Indonesia. Inilah awal bagi negara yang baru merdeka untuk memulai, menjejakkan langkah awal menuju negara industri.
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang saat itu ditemani sang istri hadir demi memenuhi undangan perayaan ulang tahun kelima Bank Industri Negara (BIN) sekaligus peresmian kantor baru. Lokasi acara penting tersebut terletak di Jalan Gondangdia Lama, Simpang Lima Menteng—kini Jalan R.P. Soeroso.
Tak sekadar acara seremoni, rupanya ada agenda besar yang tengah dicanangkan para pendiri bangsa tersebut. Indonesia yang baru berusia satu dekade harus bergerak maju menuju pembangunan industri nasional.
Harus ada upaya lebih menghimpun modal dalam negeri serta mencari strategi untuk menyiapkan manusia yang mampu mengelolanya. Oleh sebab itu, Indonesia perlu memiliki lembaga pembiayaan yang fokus untuk menopang pembangunan jangka panjang.
Demikian arahan yang disampaikan Presiden Soekarno dalam acara tersebut. Orang nomor satu di Nusantara itu pun memperkenalkan konsep Pantjalogie pembangunan, yang mencakup lima unsur, masing-masingnya : migrasi, irigasi, edukasi, industrialisasi, dan fertilisasi.
“Sekarang kita sudah sampai sejauh ini, saya ingin bertanya: Apakah mungkin Indonesia beralih ke industrialisasi? Jawaban saya: Tentu saja. Faktor-faktor yang dibutuhkan ada di sini.”
Bagi Soekarno, Indonesia punya modal dasar untuk menjadi negara industri. Yakni, kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta kemampuan menghimpun modal domestik.
Namun begitu, terdapat satu faktor yang lebih menentukan, yakni keterampilan manusia. Keterampilan tidak muncul dengan sendirinya dan mesti dibangun melalui pendidikan, pengalaman, kaderisasi, perencanaan, dan pembentukan institusi.
Dalam kesempatan tersebut, Soekarno berpesan BIN tidak hanya menjadi lembaga penyalur kredit, tetapi juga terus membangun kader-kader yang memiliki kemampuan melihat jauh ke depan. Bukan hanya untuk kepentingan Indonesia saat itu.
“Kita membutuhkan orang-orang yang menatap jauh ke depan dan melakukan persiapan serta perencanaan yang efisien. Saya berharap BIN akan terus mengikuti jalur yang dipilih dan dengan demikian memberikan kontribusi penting bagi rekonstruksi Indonesia serta kemakmuran negara dan rakyat.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal pembangunan industri Indonesia dipahami bukan semata persoalan pabrik dan modal, melainkan juga persoalan kapabilitas manusia dan kemampuan merencanakan masa depan.
Bersambung (2)
Referensi:
De Preangerbode, 7 Maret 1952; Java-Bode, 6 April 1956; 25 Tahun Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), 25 Mei 1960–25 Mei 1985; Warisan Sejarah Tak Ternilai, 2005.












