Pesan dan Pelajaran dari Transformasi BIN ke Bapindo lalu Bank Mandiri (4-Selesai)

KENDATI perjalanan BIN sebagai institusi berakhir di medio 1960, namun semangat untuk membangun industri yang telah tertanam terus berlanjut. Pesan Presiden Ir Soekarno harus terus dibakar, perlu perjuangan membangun manusia Indonesia sebagai modal utama industrialisasi.

‎Pemerintah resmi membentuk Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada 25 Mei 66 tahun silam. Kemudian, lewat UU Nomor 21 Prp Tahun 1960, BIN dilebur ke dalam Bapindo.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

‎Peleburan sejatinya bukan sekadar menghapus sebuah nama. Tapi, menjadi mandat agar pengalaman BIN dalam pembiayaan industri menjadi fondasi bagi bank pembangunan yang memiliki ruang lingkup lebih besar.

‎Bapindo bertugas sebagai penyedia  pembiayaan di sektor manufaktur, transportasi, pariwisata, dan berbagai proyek pembangunan pemerintah. Sekitar empat dekade fungsi tersebut dijalankan sampai akhirnya harus kembali mengalami transformasi.

‎Pada 1998, Bapindo bersama Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) dikonsolidasikan ke dalam Bank Mandiri, yang berdiri pada 2 Oktober 1998. Meski Bank Industri Negara telah lama hilang, jejaknya tentu tetap mengalir dalam evolusi kelembagaan perbankan di Tanah Air.

‎Warisan BIN

‎Nama BIN memang berhenti digunakan, tetapi pengetahuan mengenai pembiayaan proyek, pengelolaan investasi jangka panjang, serta sumber daya manusia yang dibangunnya berlanjut dalam institusi penerusnya. Pelajaran yang tetap relevan, tujuh dekade setelah Soekarno berbicara di gedung BIN di Gondangdia.

‎Beberapa persoalan yang disampaikan Bung Karno terasa tetap aktual. Industrialisasi masih membutuhkan modal jangka panjang.

‎Proyek strategis tetap memerlukan lembaga keuangan yang memahami karakter industri. Tapi, sumber daya alam maupun uang tidak akan cukup membangun industri nasional.

‎Dari perjalan BIN sedikitnya terdapat tiga pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, pembangunan membutuhkan institusi pembiayaan yang memiliki orientasi jangka panjang.

‎Kedua, mandat pembangunan harus berjalan bersama disiplin risiko. Status sebagai lembaga milik negara tidak berarti pembiayaan dapat diberikan tanpa prinsip kelayakan, akuntabilitas, dan tata kelola.

‎Ketiga, modal terbesar industrialisasi pada akhirnya adalah manusia. Teknologi dapat dibeli dan uang dapat dihimpun, tetapi kemampuan merencanakan, merekayasa, mengelola, dan mengambil keputusan harus dibangun.

‎Karena itu, pesan Soekarno pada malam 4 April 1956 sesungguhnya melampaui zamannya. Gedung baru BIN hanyalah bangunan dan warisan terpentingnya adalah sebuah gagasan tentang pentingnya membangun manusia untuk kemajuan sebuah bangsa.

‎Selesai. 

‎BACA JUGA: 

‎Langkah Awal Indonesia Membangun Industri Nasional (1)

‎Bank Industri Diperkuat, Faktor Manusia Lebih Utama (2)

‎Pertama Kali Beroperasi, BIN Bermodalkan 15 Personel (3)

‎Referensi:

‎De Preangerbode, 7 Maret 1952; Java-Bode, 6 April 1956; 25 Tahun Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), 25 Mei 1960–25 Mei 1985; Warisan Sejarah Tak Ternilai, 2005.

banner 300x250

Pos terkait

banner 728x90