Guru Majid : Tak Mau Balik ke Indonesia, Sebelum Dapat Ilmu Sampai ke Akar-Akarnya

Suasana Haul Guru Majid Pekojan di Masjid Jami Al Musari'in Basmol Insert : KH Abdul Majid (Foto: Dok Masjid)

JAKARTA. RAMBUKOTA – Meskipun KH Abdul Majid Bin Abdurrahman telah lama wafat, rasa hormat, rindu dan cinta masyarakat kepadanya masih senantiasa hidup. Bahkan, hingga kini jasa ulama yang dikenal dengan nama Guru Majid Pekojan tersebut masih terus dikenang.

Misalnya, lewat perayaan haul atau peringatan tahunan hari wafat KH Abdul Majid yang saban tahun digelar di bulan Sya’ban. Pada Ahad (13/3/2022), sekitar 800-an orang berkumpul demi menghadiri peringatan haul Guru Majid di Masjid Jami Al Musari’in Basmol Kembangan Utara.

Bacaan Lainnya

Sosok ulama yang terkenal dengan keilmuan di bidang falak dan tasawuf dikenal sebagai tokoh pejuang ilmu. Keikhlasannya dalam menuntut ilmu serta menyebarkannya menjadi keberkahan tersendiri sehingga jasa dan peranannya selalu dikenang.

Riwayat Sang Guru

KH Abdul Majid Bin KH Abdurrahman lahir di Pekojan pada 1887 silam. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu dari berbagai ulama baik di tanah Betawi maupun dari Mekkah. Ia menimba ilmu di kota suci Mekkah hingga 20 tahun. Ulama-ulama ketika itu yang menjadi gurunya antara lain Syekh Mukhtar Atharid, Syekh Ali Al Maliki, Syekh Umar Bajunaid, serta Syekh Said Al Yamani.

Ketika bermukim di Makkah, ayahanda Guru Majid, KH Abdurrahman, kerap mengirimkan surat. Sang ayah meminta anaknya untuk mempercepat waktu pendidikannya dan segera kembali ke Indonesia.

Tapi, kegigihan dan kecintaan KH Abdul Majid terhadap ilmu agama sungguh luar biasa. Beliau menolak kembali ke Tanah Air lantaran belum merasa cukup memiliki bekal pengetahuan agama.

Ustadz HA Hawasyi Isa L.c saat membaca manakib Syekh Abdul Majid bilang, meski berkali-kali kirim surat, tapi KH Abdurrahman tidak mendapatkan jawaban dari sang anak. Namun belakangan, ia pun mendapat balasan surat dengan jawaban yang singkat.

“Saya belum mau pulang dulu ke Indonesia atau ke rumah, kalau saya belum mendapatkan agama Islam atau ilmu Alquran sampai ke akar-akar,” ujar Ustadz Hawasyi menirukan jawaban surat Guru Majid.

Akhirnya, pada tahun 1917, Guru Majid kembali ke Indonesia. Ia memiliki segudang aktivitas mulai dari mengajar dan berdagang. Sehingga, dirinya pun menjadi rujukan ilmu para ulama kala itu.

Di kalangan penuntut ilmu di Betawi, KH Abdul Majid terkenal sebagai alim di bidang tafsir, ilmu falak, serta tasawuf. Sejumlah ulama betawi yang mengambil ilmu darinya antara lain, KH Abdul Ghoni Basmol, KH Muhajirin Amsar Bekasi, KH Abdullah Syafi’i, KH Thohir Rohili, serta KH Syafi’i Hadzami.

Ketokohan dan penguasaan ilmu KH Abdul Majid atawa Guru Majid sangat diakui oleh berbagai kalangan alim ulama. Bahkan, beliau juga dikenal sebagai salah satu dari enam jaringan guru ulama Betawi awal abad ke-20.

Nama KH Abdul Majid disejajarkan dengan tokoh atau ulama lain seperti KH Abdul Mughni Kuningan (Guru Mughni), KH Marzuki Bin Ahmad Mirshod Cipinang Muara (Guru Marzuki), KH M Mansyur Jembatan Lima (Guru Mansyur), KH Mahmud Romli Menteng (Guru Romli), serta KH M Kholid Gondandia (Guru Kholid).

Sebagai Tokoh Politik Indonesia

Sejarinya kiprah Guru Majid tidak hanya di bidang ilmu keagamaan, namun beliau juga aktif di organisasi dan politik. Beliau mengabdikan diri di Masyumi-Nahdlatul Ulama sekaligus pernah menjadi anggota dewan semacam DPRD di masa penjajahan Jepang hingga tahun 1944.

“Pada masa pendudukan Jepang, ia dipercaya menjadi salah satu pimpinan Masyumi, masuk sebagai anggota Nahdlatul Ulama dan kemudian menjadi anggota Chuo Sangiin (Dewan Penasihat Pusat),” sebagaimana dikutip dari laman arsip Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menjelang akhir hayatnya di tahun 1946, Guru Majid menderita sakit yang parah. Meskipun begitu, beliau masih tetap mengajarkan para muridnya dalam keadaan berbaring, yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap ilmu.

Di masa sakit tersebut, K.H Abdul Majid telah merasakan firasat akan datangnya hari kewafatan. Dia berpikir tentang lokasi tempat jasadnya akan dikebumikan. Selanjutnya, ia menuliskan surat wasiat untuk keluarga dan muridnya.

Dalam isi surat wasiatnya, sang guru meminta izin kepada salah seorang muridnya yang bernama KH Abdul Ghoni, untuk dimakamkan di tanah pekuburan keluarga di Kampung Pesalo Basmol. Permintaan tersebut pun disambut oleh Sang Murid, yang hingga kini para keturunannya masih senantiasa menggelar haul Guru Majid.

“KH Abdul Majid mewasiatkan kepada enjid kami (KH Abdul Ghoni), yang isinya apabila beliau meninggal meminta dikuburkan di kampungnya. Yang namanya murid tentu sangat senang apabila ada guru yang meminta dimakamkan di tanah kampungnya,” tutur Ustadz Hawasyi.

Ketua DKM Masjid Jami Al Musari’in Basmol, KH Hisyam Alburhany Hasyim mengatakan, keluarga besar Basmol tentu sangat berterima kasih kepada KH Abdul Majid. Sebab, keinginan ulama tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga dan keluarga Basmol dengan pandangan beliau yang dituliskan dalam surat wasiat. “Keinginannya dimakamkan di Basmol menjadi kebanggaan kami,” ujarnya.

Pada hari Jumat, 27 Juni 1947 atau bertepatan dengan Sya’ban 1366 hijriah, KH Abdul Majid menghembuskan napas terakhirnya. Beliau wafat dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di depan Masjid Jami Al Musari’in Basmol. sesuai dengan wasiat beliau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar

  1. Jejak perjuangan Ulama Betawi , Guru Majid Masya Allah, Terima kasih berita nya sangat manfaat buat sejarah Betawi umumnya buat generasi yg sekarang dan yg akan datang..aamiiinn

  2. Terima kasih berita nya sangat manfaat buat sejarah Betawi umumnya buat generasi yg sekarang dan yg akan datang..aamiiinn