Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono memberi sinyal kepada seluruh jajaran Polri bahwa jabatan Kepala Kepolisian RI yang saat ini masih berada dipundak Jenderal Pol Drs Bambang Hendarso Danuri belum akan diganti.Dengan demikian masa bakti Jenderal berbintang empat lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974 ini masih akan berlangsung 11 bulan lagi.
Haqqul yaqin, sudah pas banget. Ikhwalnya, pers memuat kesiapan Tomy Soeharto untuk jadi Ketum DPP Golkar. Dahsyat, tapi tak mudah. Tommy terganjal AD/ART, bersebab ia belum kunjung memangku ketua DPD maupun DPP. Namun, sepanjang mayoritas kongres menghendaki Tommy jadi calon, requirements AD/ART tadi bisa dilampaui di Tatib Munas. So, hipotesa harus dijawab: mengapa mayoritas harus memilih Tommy Soeharto?
Ini adalah kisah tentang rezim-rezim liberalisme yang berhubungan dengan kisah Tommy, Neolib, dan Neo Classic yang bagi banyak orang, senantiasa keliru paham. Liberalisme awal adalah Neo Classic I, ialah Adam Smith sendiri, pencipta hukum ekonomi pasar tipe Tangan Tak Terlihat / Invisible Hands.
Kembali ke masalah pokok, mengapa mayoritas harus memilih Tommy Soeharto? Tesis dan diksi itu menarik hati. Terakhir saya sepanggung dengan Tommy, 10 bulan lalu, di forum pengajian Wahdatul Ummah yang dipimpin Agus Miftah, membahas sayap radikal Islam Iran dan Traktat Hudaibiah.
Tommy bicara nasionalisme, demokrasi, Otoda, kemandirian bangsa, dan Islam. Ia hebat, di samping aura pengaruhnya yang harus saya akui sangat besar, idealismenya tampak kian bernas berkat kedalaman pemahaman masalah bangsa dengan cara yang unik, telah membuat penampilannya visioner yang sulit ditandingi.